Senin, 13 Februari 2012

Demokrasi di Indonesia jadi panutan negara lain


LONDON (Arrahmah.com) – Pengalaman Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan berpenduduk mayoritas Muslim dapat menjadi model bagi negara lain yang saat ini sedang menghadapi transisi, demikian pendapat Direktur Eksekutif “Institute for Peace and Democracy” (IPD) Dr I Ketut Putra Erawan.
Hal tersebut disampaikan direktur IPD dalam pertemuan tahunan `Crans Montana Forum` (Swiss) ke-22 di Brussel baru-baru ini,” ujar `Minister Counsellor` Pensosbud and Diplik KBRI Brusel, Palupi S Mustajab kepada Antara London, Rabu (13/7/2011).
“Crans Montana Forum” (Swiss) yang berdiri sejak tahun 1989 adalah forum bidang Polkam. Pada pertemuan “Special One Day Program” bertema “Looking for Political Model” dalam forum itu dihadiri sekitar 600 peserta terseleksi dari wakil pemerintah, organisasi internasional serta kalangan dunia usaha tersebut.
Dalam kesempatan itu, Ketut Putra Erawan mengungkapkan bahwa penguatan demokrasi Indonesia masih terus berjalan, sehingga dapat menjadi referensi menarik dalam debat terbuka yang mengangkat tema tantangan dunia menghadapi masa transisi di negara-negara kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah saat ini.
Ia berpendapat pentingnya melihat kembali dasar-dasar pembangunan dan konsolidasi institusi demorasi. Selain mendengarkan aspirasi dan suara/keinginan rakyat serta penyampaian demokrasi.
Tidak dapat dipungkiri terkait adanya apresiasi dari berbagai pihak pada forum ini terhadap perjalanan kehidupan demokrasi di Indonesia yang penduduknya mayoritas Muslim.
Hal itu merupakan suatu refleksi terkait pentingnya pengakuan dunia internasional atas peran IPD sebagai pelaksana Bali Democracy Forum dalam upaya pemajuan perdamaian dan demokrasi.
Ia juga menyampaikan ‘peranan’ Indonesia dalam mengatasi masa transisi di Afrika Utara melalui pelaksanaan “Workshop on Egypt-Indonesia Dialogue on Democratic Transition” di Jakarta pada Mei lalu yang mendapat tanggapan posistif dari berbagai pihak, termasuk Uni Eropa.
Hal yang perlu dipertanyakan, sudah pantaskah Indonesia menjadi model demokrasi? bahkan di dalam negeri pun demokrasi yang dijunjung tinggi tersebut masih diwarnai diskriminasi dalam pelaksanaannya. (ans/arrahmah

Astronomi Islam Menguak Rahasia Langit (3)

Astronomi Islam Menguak Rahasia Langit (3)


REPUBLIKA.CO.ID, Menurut para ahli sejarah, kedekatan dunia Islam dengan dunia lama yang dipelajarinya menjadi faktor berkembangnya astronomi Islam. 

Selain itu, begitu banyak teks karya-karya ahli astronomi yang menggunakan bahasa Yunani Kuno, dan Persia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab selama abad ke-9. Proses ini dipertinggi dengan toleransi terhadap sarjana dari agama lain. Sayang, dominasi itu tak bisa dipertahankan umat Islam.

Jejak Abadi di Kawah ke Bulan
Ilmuwan Islam begitu banyak memberi kontribusi bagi pengembangan dunia astronomi. Buah pikir dan hasil kerja keras para sarjana Islam di era tamadun itu diadopsi serta dikagumi para saintis Barat. 

Inilah beberapa ahli astronomi Islam dan kontribusi yang telah disumbangkannya bagi pengembangan `ratu sains' itu:

Al-Battani (858-929)
Sejumlah karya tentang astronomi terlahir dari buah pikirnya. Salah satu karyanya yang paling populer adalah Al-Zij Al-Sabi. Kitab itu sangat bernilai dan dijadikan rujukan para ahli astronomi Barat selama beberapa abad, selepas Al-Battani meninggal dunia. 

Ia berhasil menentukan perkiraan awal bulan baru, perkiraan panjang matahari, dan mengoreksi hasil kerja Ptolemeus mengenai orbit bulan dan planet-planet tertentu. Al-Battani juga mengembangkan metode untuk menghitung gerakan dan orbit planet-planet. Ia memiliki peran yang utama dalam merenovasi astronomi modern yang berkembang kemudian di Eropa.

Al-Sufi (903-986 M)
Orang Barat menyebutnya Azophi. Nama lengkapnya adalah Abdur Rahman As-Sufi. Al-Sufi merupakan sarjana Islam yang mengembangkan astronomi terapan. Ia berkontribusi besar dalam menetapkan arah laluan bagi matahari, bulan, dan planet dan juga pergerakan matahari. 

Dalam Kitab Al-Kawakib as-Sabitah Al-Musawwar, Azhopi menetapkan ciri-ciri bintang, memperbincangkan kedudukan bintang, jarak, dan warnanya. Ia juga ada menulis mengenai astrolabe (perkakas kuno yang biasa digunakan untuk mengukur kedudukan benda langit pada bola langit) dan seribu satu cara penggunaannya.

Al-Biruni (973-1050 M)
Ahli astronomi yang satu ini, turut memberi sumbangan dalam bidang astrologi pada zaman Renaissance. Ia telah menyatakan bahwa bumi berputar pada porosnya. Pada zaman itu, Al-Biruni juga telah memperkirakan ukuran bumi dan membetulkan arah kota Makkah secara saintifik dari berbagai arah di dunia. Dari 150 hasil buah pikirnya, 35 diantaranya didedikasikan untuk bidang astronomi.

Ibnu Yunus (1009 M)
Sebagai bentuk pengakuan dunia astronomi terhadap kiprahnya, namanya diabadikan pada sebuah kawah di permukaan bulan. Salah satu kawah di permukaan bulan ada yang dinamakan Ibnu Yunus. Ia menghabiskan masa hidupnya selama 30 tahun dari 977-1003 M untuk memerhatikan benda-benda di angkasa. Dengan menggunakan astrolabe yang besar, hingga berdiameter 1,4 meter, Ibnu Yunus telah membuat lebih dari 10 ribu catatan mengenai kedudukan matahari sepanjang tahun.

Al-Farghani
Nama lengkapnya Abul Abbas Ahmad ibnu Muhammad ibnu Kathir Al-Farghani. Ia merupakan salah seorang sarjana Islam dalam bidang astronomi yang amat dikagumi. Al-Farghani merupakan salah seorang ahli astronomi pada masa Khalifah Al-Ma'mun. Dia menulis mengenai astrolabe dan menerangkan mengenai teori matematik di balik penggunaan peralatan astronomi itu. Kitabnya yang paling populer adalah Fi Harakat Al-Samawiyah wa Jaamai Ilm al-Nujum tentang kosmologi.

Al-Zarqali (1029-1087 M)
Saintis Barat mengenalnya dengan panggilan Arzachel. Wajah Al-Zarqali diabadikan pada setem di Spanyol, sebagai bentuk penghargaan atas sumbangannya terhadap penciptaan astrolabe yang lebih baik. Ia telah menciptakan jadwal Toledan dan juga merupakan seorang ahli yang menciptakan astrolabe yang lebih kompleks bernama Safiha.

Jabir Ibn Aflah (1145 M)
Sejatinya Jabir Ibnu Aflah atau Geber adalah seorang ahli matematika Islam berbangsa Spanyol. Namun, Jabir pun ikut memberi warna dan kontribusi dalam pengembangan ilmu astronomi. Geber, begitu orang barat menyebutnya, adalah ilmuwan pertama yang menciptakan sfera cakrawala mudah dipindahkan untuk mengukur dan menerangkan mengenai pergerakan objek langit. Salah satu karyanya yang populer adalah Kitab Al-Hay'ah.

Astronomi Islam Menguak Rahasia Langit (2)

Astronomi Islam Menguak Rahasia Langit (2)


REPUBLIKA.CO.ID, Selain itu, astronomi Islam juga mewariskan beberapa istilah dalam `ratu sains' itu yang hingga kini masih digunakan, seperti alhidade, azimuth, almucantar, almanac, denab, zenit, nadir, dan vega. 



Kumpulan tulisan astronomi Islam hingga kini masih tetap tersimpan dan jumlahnya mencapai 10 ribu manuskrip.


Ahli sejarah sains, Donald Routledge Hill, membagi sejarah astronomi Islam ke dalam empat periode. Periode pertama (700-825 M) adalah masa asimilasi dan penyatuan awal dari astronomi Yunani, India dan Sassanid. 


Periode kedua (825-1025) adalah masa investigasi besar-besaran dan penerimaan serta modifikasi sistem Ptolomeus. Periode ketiga (1025-1450 M), masa kemajuan sistem astronomi Islam. Periode keempat (1450-1900 M), masa stagnasi, hanya sedikit kontribusi yang dihasilkan.


Geliat perkembangan astronomi di dunia Islam diawali dengan penerjemahan secara besar-besaran karya-karya astronomi dari Yunani serta India ke dalam bahasa Arab. Salah satu yang diterjemahkan adalah karya Ptolomeus yang termasyhur,Almagest. Berpusat di Baghdad, budaya keilmuan di dunia Islam pun tumbuh pesat.


Sejumlah, ahli astronomi Islam pun bermunculan, Nasiruddin At-Tusi berhasil memodifikasi model semesta episiklus Ptolomeus dengan prinsip-prinsip mekanika untuk menjaga keseragaman rotasi benda-benda langit. 


Selain itu, ahli matematika dan astronomi Al-Khawarizmi, banyak membuat tabel-tabel untuk digunakan menentukan saat terjadinya bulan baru, terbit-terbenam matahari, bulan, planet, dan untuk prediksi gerhana.


Ahli astronomi lainnya, seperti Al-Batanni banyak mengoreksi perhitungan Ptolomeus mengenai orbit bulan dan planet-planet tertentu. Dia membuktikan kemungkinan gerhana matahari tahunan dan menghitung secara lebih akurat sudut lintasan matahari terhadap bumi, perhitungan yang sangat akurat mengenai lamanya setahun matahari 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik.


Astronom Islam juga merevisi orbit bulan dan planet-planet. Al-Battani mengusulkan teori baru untuk menentukan kondisi dapat terlihatnya bulan baru. Tak hanya itu, ia juga berhasil mengubah sistem perhitungan sebelumnya yang membagi satu hari ke dalam 60 bagian (jam) menjadi 12 bagian (12 jam), dan setelah ditambah 12 jam waktu malam sehingga berjumlah 24 jam.


Buku fenomenal karya Al-Battani pun diterjemahkan Barat. Buku "De Scienta Stelarum De Numeris Stellarum" itu kini masih disimpan di Vatikan. Tokoh-tokoh astronomi Eropa seperti Copernicus, Regiomantanus, Kepler dan Peubach tak mungkin mencapai sukses tanpa jasa Al-Batani. Copernicus dalam bukunya "De Revoltionibus Orbium Clestium" mengaku berutang budi pada Al-Battani.


Dunia astronomi juga tak bisa lepas dari bidang optik. Melalui bukunya, Mizan Al-Hikmah, Al Haitham mengupas kerapatan atmosfer. Ia mengembangkan teori mengenai hubungan antara kerapatan atmosfer dan ketinggiannya. Hasil penelitiannya menyimpulkan ketinggian atmosfer akan homogen di ketinggian lima puluh mil.


Teori yang dikemukakan Ibn Al-Syatir tentang bumi mengelilingi matahari telah menginspirasi Copernicus. Akibatnya, Copernicus dimusuhi gereja dan dianggap pengikut setan. Demikian juga Galileo, yang merupakan pengikut Copernicus, secara resmi dikucilkan oleh Gereja Katolik dan dipaksa untuk bertobat, namun dia menolak.

Astronomi Islam Menguak Rahasia Langit (1)

Astronomi Islam Menguak Rahasia Langit (1)


REPUBLIKA.CO.ID, Sebagai salah satu ilmu pengetahuan tertua dalam peradaban manusia, astronomi kerap dijuluki sebagai 'ratu sains'. Astronomi memang menempati posisi yang terbilang istimewa dalam kehidupan manusia. 


Sejak dulu, manusia begitu terkagum-kagum ketika memandang kerlip bintang dan pesona benda-benda langit yang begitu luar biasa. Awalnya, manusia menganggap fenomena langit sebagai sesuatu yang magis. 


Seiring berputarnya waktu dan zaman, manusia pun memanfaatkan keteraturan benda-benda yang mereka amati di angkasa untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti penanggalan. Dengan mengamati langit, manusia pun bisa menentukan waktu untuk pesta, upacara keagamaan, waktu untuk mulai menabur benih dan panen.


Jejak astronomi tertua ditemukan dalam peradaban bangsa Sumeria dan Babilonia yang tinggal di Mesopotamia (3500-3000 SM). Bangsa Sumeria hanya menerapkan bentuk-bentuk dasar astronomi. Pembagian lingkaran menjadi 360 derajat berasal dari bangsa Sumeria.
Orang Sumeria juga sudah mengetahui gambaran konstelasi bintang sejak 3500 SM. Mereka menggambar pola-pola rasi bintang pada segel, vas, dan papan permainan. Nama rasi Aquarius yang dikenal saat ini berasal dari bangsa Sumeria.


Astronomi juga sudah dikenal masyarakat India kuno. Sekitar tahun 500 SM, Aryabhata melahirkan sistem matematika yang menempatkan bumi berputar pada porosnya. Aryabhata membuat perkiraan mengenai lingkaran dan diameter bumi. Brahmagupta (598-668) juga menulis teks astronomi yang berjudul Brahmasphutasiddhanta pada 628. Dialah astronom pendahulu yang menggunakan aljabar untuk memecahkan masalah-masalah astronomi.


Masyarakat Cina kuno 4000 SM juga sudah mengenal astronomi. Awalnya, astronomi di Cina digunakan untuk mengatur waktu. Orang Cina menggunakan kalender lunisolar. Namun, karena perputaran matahari dan bulan berbeda, para ahli astronomi Cina sering menyiapkan kalender baru dan membuat observasi.


Bangsa Yunani kuno juga amat tertarik dengan astronomi. Adalah Thales yang mengawalinya pada abad ke-6 SM. Menurut dia, bumi itu berbentuk datar. Phytagoras sempat membantah pendapat itu dengan menyatakan bumi itu bulat. Dua abad berselang, Aristoteles melahirkan terobosan penting yang menegaskan menyatakan bahwa bumi itu bulat bundar.


Aristachus pada abad ke-3 SM sempat melontarkan pendapat bahwa bumi bukanlah pusat alam semesta. Teori itu tak mendapat tempat pada masa itu. Era astronomi klasik ditutup Hipparchus pada abad ke-1 SM yang melontarkan teori geosentris. Bumi itu diam dan dikelilingi oleh matahari, bulan, dan planet-planet yang lain. Sistem geosentris itu disempurnakan Ptolomeus pada abad ke-2 M .

Astronomi Islam

Setelah runtuhnya kebudayaan Yunani dan Romawi pada abad pertengahan, maka kiblat kemajuan ilmu astronomi berpindah ke bangsa Arab. Astronomi berkembang begitu pesat pada masa keemasan Islam (8-15 M). Karya-karya astronomi Islam kebanyakan ditulis dalam bahasa Arab dan dikembangkan para ilmuwan di Timur Tengah, Afrika Utara, Spanyol dan Asia Tengah.


Salah satu bukti dan pengaruh astronomi Islam yang cukup signifikan adalah penamaan sejumlah bintang yang menggunakan bahasa Arab, seperti Aldebaran dan Altair, Alnitak, Alnilam, Mintaka (tiga bintang terang di sabuk Orion), Algol, Altair, dan Betelgeus.

Sabtu, 11 Februari 2012

Museum Simalungun

Bertahun-tahun, kami tinggal di Pematangsiantar di akhir 1980-an, dan kemudian pindah ke Medan sekitar 1990-an, tak pernah terpikir untuk sekedar mendalami makna bangunan berbentuk rumah adat yang terletak di pusat kota yang banyak melahirkan tokoh-tokoh penting di Negara ini. Hingga Jasamen Saragih MA, mahasiswa program doktoral di Australia National University bulan Mei 2008 mengajak kami mengunjungi museum itu. Selain itu, ada rasa rindu bertemu S. Lingga, seorang yang sudah mengabdikan dirinya memelihara karya agung para nenek moyang kita selama 26 tahun
Mungkin anda sama seperti saya, kurang peduli karya-karya agung di sekitarnya. (Kami berjanji, akan melengkapi artikel ini dengan foto-foto suatu ketika!). Kalau anda berkunjung ke Pematangsiantar, silakan meluangkan waktu sejenak ke arah ujung jalan Sutomo, kemudian masuk Jalan Sudirman dan belok ke kiri, kira-kira 10 meter dari perempatan depan Kantor Polres Simalungun. Anda akan melihat sebuah kompleks yang diapit dua bangunan besar yakni Gereja GKPS Sudirman dan Kantor Polres Simalungun. Letaknya tidak jauh dari kantor Walikota Pematangsiantar maupun Kebun Binatang Pematangsiantar. Itulah Museum Simalungun.
Berhenti di pinggir Jalan Sudirman, persis di gerbang museum, pandangan mata terpaut pada sebuah bangunan rumah adat Simalungun. Wah, begitu mengagumkan. Memasuki gerbang kita seolah memasuki alam masa lalu, berabad-abad ke belakang. Di kiri kanan beberapa situs peninggalan sejarah masa lalu berbentuk manusia berdiri kokoh dengan pandangan bisu. Namun lukisan kelopak mata patung itu banyak yang terlihat suram karena mulai lapuk telah diterpa panas dan hujan.
Situs Satur ni Raja Nagur (buah catur raja Nagur) misalnya. Berukuran cukup besar, berbentuk catur yang berwujud perempuan. Konon, karena besarnya buah catur ini, sang raja yang memerintah pada masa itu memerlukan bantuan beberapa orang untuk memindahkannya.
Masih di lokasi pekarangan, masih dapat disaksikan situs lainnya yakni Pangulu Balang. Berwujud wajah perempuan yang memangku dua arca, yang menggambarkan bahwa Sang Pencipta selalu melindungi mahkota ciptaanNya. Di sebelah kanan Situs Catur Raja Nagur, berdiri Batu Pangulu Balang, seorang raja yang menunggang gajah yang melambangkan keperkasaan seorang raja. Kedua situs ini dulunya ditemukan di Kerajaan Batang Iou, Tanah Jawa, Simalungun.
Di pekarangan museum juga terlihat situs berwujud bangunan yakni Situs Pales Rumah atau tiang penyangga rumah di zaman dahulu. Situs ini diperkirakan berasal dari abad ke 8. Situs ini disumbangkan ke museum itu pada 1939. Menurut Andreas Lingga, Kepala Museum Simalungun, asal-usul Situs Pales Rumah ini masih dalam proses penelitian. Ada puluhan situs-situs kecil lainnya, yang menarik.
Kemudian kami menelusuri rumah adat, tempat berbagai barang peninggalan nenek moyang lainnya tersimpan. Memandang rumah adat ini kami ingin tau apa arti dari semua bagian bangunan yang unik. Ternyata, masyarakat Simalungun di zaman dahulu kala memberi makna setiap bagian bangunan. Di puncak bangunan terdapat tanduk kerbau yang melambangkan “keberanian dan kebenaran”. Dari puncak rumah, tergantung dua utas tali sepanjang dua sampai tiga meter, yang disebut pinar tanjung bara. Masyarakat Simalungun saat itu meyakini tali ini sebagai penangkal petir. Masih pada posisi dinding, pada bagian bawah rumah terdapat suleppat, yang melambangkan persatuan. Memasuki rumah, maka tepampang di kiri dan kanan patung bohi-bohi (profil manusia) yang melambangkan keramahan, sekaligus menolak bala. Di bagian lain terdapat pinarbunga bongbong, artinya rezeki tertampung dan tidak bocor. Rumah dibuat bertiang untuk menghindari serangan binatang buas.
Memasuki rumah adat harus melewati beberapa anak tangga, dengan berpegangan pada seutas rotan sejajar tangga. Aku teringat akan rumah bolon di kampung kami, Nagasaribu. Menaiki rumah bolon di masa kecil. Sayangnya, empat rumah bolon di kampung kami sudah hancur dan tidak berbekas lagi.
Di dalam rumah adat seperti ini umumnya terdapat delapan dapur atau delapan rumah tangga atau lebih. Tetapi di dalam rumah adat Museum Simalungun, kami tidak menemukan ruangan-ruangan seperti biasanya. ”Ruangan ini memang hanya diperuntukkan bagi penyimpanan barang-barang peninggalan nenek moyang,”ujar Andreas Lingga, Kepala Museum Simalungun.
Perasak takjub dan miris muncul saat kita berada di dalam rumah. Berbagai macam bukti kehidupan masa lalu masyarakat Simalungun terdapat di ruangan ini. Kami menyaksikan kemajuan ilmu pengetahuan masa lalu berupa lak-lak atau naskah kuno Simalungun. Laklak adalah buku yang ditulis dalam aksara Simalungun, yang berisikan tentang kehidupan masyarakat Simalungun di masa lalu seperti perbintangan, ramuan obat dan lain-lain. Lak-lak terbuat dari bambu dan ditulis dengan alat tulis khusus di atasnya. Masih di dalam rumah, kami menemukan peralatan rumah tangga (gusi, pinggan, tumbuan dll), permainan kuno (sappak hotang, catur, congklak, papan margajah, onja-onja). Onja-onja adalah sejenis perlombaan cerdas tangkas di zaman sekarang ini.
Permainan nenek moyang kita dahulu sangat kreatif dan berasal dari alamnya sendiri, mengapa permainan itu tidak dikembangkan, sehingga alam sekitar kita bisa berguna dan kita tidak hanya menjadi buangan sampah mainan plastik produk luar nergeri? Terdapat juga alat-alat musik/kesenian seperti gondrang, husapi, sulim, sarune serta perlatan tari diantaranya toping huda-huda, hasil kerajinan dan lain-lain. Mata uang yang dipergunakan dari masa lalu dapat juga disaksikan di ruangan ini.
Masyarakat Simalungun memiliki ciri khas kehidupan, yang berbeda dari suku lainnya di Tanah Air tercinta ini. Barang-barang peninggalan di museum ini adalah bukti nyata.
Keluar dari ruangan muncul renungan di benak kami, kalau nenek moyang kita bisa menulis buku dengan alat yang sederhana, mengapa kini dengan peralatan serba canggih, kita tidak mampu menghasilkan karya-karya yang unggul dan dikagumi orang?
***
Museum ini merupakan salah satu yang tertua diantara 13 museum yang kini beroperasi dan terdaftar pada Direktori Pemerintah Indonesia. Mulai dibangun pada 10 April 1939 oleh Raja-raja Simalungun bekerja sama dengan tenaga-tenaga ahli dari negeri Belanda diantaranya Dr Voorhoeve, dan A.H. Doormik. Setahun kemudian, persisnya 30 April 1940, museum ini resmi beroperasi (Yayasan Museum Simalungun, 1983).
Selain Museum Simalungun, di Sumatera Utara terdapat Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara, Rumah Bolon Pematang Purba, Zoologi Pematangsiantar, Dairi Sidikalang, Hutabolon Simanindo, Balai Budaya Batak Arjuna, Karo Lingga, Niat Lima Laras di Tanjung Tiram, Pusaka Nias di Gunung Sitoli, Museum Juang 45 Sumatera Utara di Medan, Museum Perjuangan ABRI.
Di kala krisis belum melanda negara ini, dan kondisi kepariwisataan masih baik, Museum Simalungun adalah salah satu objek wisata yang tinggi peminatnya. Pada 1993 misalnya, museum ini menarik tidak kurang dari 43.000 lebih pengunjung asing, belum termasuk pengunjung domestik. Jauh lebih besar dari pengunjung Perpustakaan terbesar di Propinsi ini, yang hanya mampu menggaet kurang dari 1000 orang per bulannya.
Walau kemudian dari data statistik yang terpampang di papan Museum Simalungun menunjukkan jumlah pengunjung yang terus menurun dari tahun ke tahun. Pada 1995, jumlah pengunjung asing tercatat sebesar 37.166 orang dan pengunjung dalam negeri 3.724 orang, tahun-tahun berikutnya terus menurun, hanya sekitar 5000-an (1997) dan menurun terus hingga hanya ratusan per tahun. “Dulu, bus-bus pariwisata berjejer parkir sepanjang jalan itu,”ujar Andreas.
Museum ini juga dipergunakan sebagai laboratorium penelitian. Puluhan peneliti dalam dan luar negeri menjadikannya sebagai objek penelitian dan referensi yang menghasilkan buku-buku budaya yang bernilai tinggi.
***
Kala kami mengitari bagian belakang museum, muncul rasa prihatin. Di sana terdapat puing-puing rumah yang dulunya adalah Gedung Tari. Gedung Tari ini, dulunya ramai dengan para penari dan bahkan pengelolanyapun tinggal di sana. Sayang sekali. Bangunan tersebut tidak terurus. Rumput tumbuh di sana sini menjuluri bangunan rangka tiang beton yang pembangunannya terbengkalai.
Puing-puing juga terdapat di sebelah Gedung Tari. Mengitari bagian belakang museum, terdapat puing-puing rumah yang dulunya adalah Gedung Tari dan di sebelah kiri terdapat ruang kantor. Gedung Tari ini, dulunya ramai dan bahkan dijadikan sebagai tempat tinggal pengelola museum. Sayangnya, bangunan tersebut tidak terurus. Rumput tumbuh di sana sini menjuluri bangunan rangka tiang beton yang terbengkalai.

English: The Simalungun Museum in Pematangsiantar
Nederlands: Negatief. Het Simaloengoen Museum in Pematangsiantar

Di sebelah Gedung Tari terdapat puing-puing di bekas bangunan tempat jaga malam. Bangunan itu terbakar beberapa waktu yang lalu. Ajaib!. Jarak api yang hanya beberapa meter dari lokasi kebakaran tidak sempat “menjilat” atap museum yang terbuat dari ijuk. Andaikata api sempat menjilat museum dan menghanguskannya, bisa dibayangkan apa nasib barang-barang pusaka yang ada didalamnya. Meski sudah luput dari bahaya, tokh puing-puing kebakaran itu hanya dibiarkan begitu saja, sudah beberapa bulan tak mendapat perbaikan sama sekali. Sebuah bukti penghargaan kita yang rendah pada sebuah nilai masa lalu kita yang justru dihargai tinggi oleh orang asing. Ingat, puluhan ribu wisatawan asing mampir beberapa tahun lalu.
Begitu banyak bangunan bersejarah yang bernilai tinggi, yang gagal diberi makna, tergusur dan bahkan lenyap dikalahkan oleh pertimbangan bisnis semata. Mudah-mudahan Museum Simalungun tidak mengalami nasib yang sama dengan bangunan-bangunan bernilai sejarah yang tergusur di tempat lain. “Inilah salah satu keprihatinan para pengelola museum seperti kami,”ujar Andreas. Dia masih berharap kelak Museum Simalungun, demikian juga museum-museum yang lain masih berpotensi dikelola dengan baik.
Tulisan ini mengingatkan seluruh lapisan masyarakat agar mengingat petuah-petuah pendiri bangsa ini. ”Jangan sekali-sekali melupakan sejarah masa lalu”.. Masa lalu bermanfaat untuk memaknai kondisi masa kini. Pemaknaan kisah masa lalu yang sebagian tersimpan di museum, terletak sejauh mana masyarakat kita—khususnya generasi muda memahaminya dan merasa hal itu penting dan relevan sebagai sebuah tolok ukur kondisi masa kini.
Mengamati bangunan dan membaca sejarah museum ini, kami memiliki rasa kagum. Ide mulia puluhan tahun yang lalu–disponsori Pemerintah Belanda dan tokoh-tokoh lokal di tahun 1930-an, masih dapat disaksikan dan bermanfaat sampai sekarang. Para pendahulu kita menyadari pentingnya sebuah nilai yang baik diwariskan kepada generasi berikutnya, melalui museum. Bisakah kita mempertahankan dan melanjutkan cita-cita pendirinya? Sebuah tantangan bersama generasi penerus bangsa ini!.
Tulisan ini sedikit mengalami edit dari artikel yang dimuat di Rubrik Nusantara Hal 31 dengan 12 Gambar, Harian Analisa tanggal 14 Mei 2008.
Photo dan Tulisan Oleh : Jannerson Girsang / KILTV
Sumber : http://harangan-sitora.blogspot.com/2009/03/museum-simalungun.html

Sumber :  http://simalungunonline.com/museum-simalungun.html

Riwayat Rumah Bolon Siantar

De woning van de radja van Siantar in de omgeving van Simeloengoen
Terjemahan Oleh Sally Pardede : RUMAHNYA DARI RAJA SIANTAR DI DAERAH SIMALUNGUN.
Ini Rumah Bolon Raja Siattar , Raja Sang Naualuh di Pamatang Siattar sebelum di buang oleh Belanda ke Bengkalis tahun 1906 DENGAN KORT VERKLARING, 16 OKTOBER 1907, BELANDA MEMBAGI KERAJAAN SIANTAR MENJADI 37 PERBAPAAN
Kerajaan Siantar sendiri waktu itu sudah dipengaruhi kekuasaan Belanda, hingga akhirnya menandatangani Perjanjian Pendek dengan Belanda (Korte Verkalring). Namun dari berbagai sumber sejarah Simalungun diketahui, Sangnawaluh bukanlah merupakan pendiri Kerajaan Siantar tetapi penerus tahta kerajaan. Karena Sangnawaluh sudah merupakan pewaris pendahulunya (ketujuh) yang menjadi Raja Siantar pada tahun 1888. Hal ini merujuk dari silsilah Kerajaan Siantar, diketahui Rajanya secara berturut-turut adalah Raja Naihorsik – Raja Hitam – Raja Nai Halang – Raja Namaringis – Raja Namartuah – Raja Mopir – Raja Sangnawaluh – Tuan Torialim (Tuan Marihat) dan Tuan Riahta Damanik (Tuan Sidamanik).
Kedua Raja Siantar terakhir inilah yang kemudian melakukan Perjanjian Pendek dengan Belanda tanggal 16 Oktober 1907. Seterusnya, Kerajaan Siantar dipangku oleh Tuan Riah Kadim (Tuan Waldemar) dan terakhir hingga meletusnya Revolusi Sosial di Simalungun 1946, Kerajaan Siantar dipimpin Tuan Sawadim Damanik. Sebenarnya dapat disebutkan, bahwa sejak adanya Perjanjian Pendek antara Raja-raja Simalungun dengan Belanda, berakhir pulalah kekuasaan Raja-raja di Simalungun sekitar tahun 1907. Karena sebelumnya Kerajaan Panei, Raya, Silimakuta, Purba, Tanah Jawa, Dolok Silou sudah lebih dulu menandatanganinya.
Adapun isi Perjanjian Pendek itu antara lain: Raja harus mematuhi semua perintah dan peraturan Gubernur General, Raja harus mengakui kerajaannya menjadi bagian kerajaan Hindia Belanda, Raja tidak boleh mengadakan hubungan dengan pihak asing, Raja tidak memiliki wilayah laut dan pantai, Struktur pemerintahan berlaku hukum adat sepanjang tidak bertentangan dengan peradaban Belanda serta segala sesuatu harus mendapatkan persetujuan Residen atau wakilnya
DENGAN KORT VERKLARING, 16 OKTOBER 1907, BELANDA MEMBAGI KERAJAAN SIANTAR MENJADI 37 PERBAPAAN
1. Si Saoeadim , Toean Van Bandar
2. Si Badjandin , Toean Van Bandar Poelau
3. Si Kani , Toean Van Bandar Bajoe
4. Si Djamin , pemangkoe Van Toean Negeri Bandar
5. Si Mia , Toean Van Si Malangoe
6. Si Kama , Roumah Suah
7. Si Bisara , Nagodang
8. Si Djommaihat , Toean Kahaha
9. Si Djarainta , Toean Boentoe
10. Si Djandioeroeng , Toean Dolok Siantar
11. Si Silim , Toean Van Bandar Sakoeda
12. Si Djontahali , Toean Van Mariah Bandar
13. Si Rimmahala , Toean Van Naga Bandar
14. Si Kadim , Toean Van Bandar Tonga
15. Si Tongma , Bah Bolak Van Pematang Siantar
16. Si Naman , Toean Van Lingga
17. Si Djaha , Toean Van Bangoen
18. Si Djibang , Toean Van Dolok Malela
19. Si Djandiain , Toean Van Silo Bajoe
20. Si Lampot , Toean Van Djorlang Hataran
21. Si Djanji-arim , Toean Van Maligas Bandar
22. Si Djadi , Toean Van Sakuda
23. Si Radjawan , Toean Van Gunung Maligas
24. Si Djaoelak , Toean Van Tamboen
25. Si Tahan Batoe , Toean Van Si Polha
26. Si Ria Kadi , Toean Van Manik Si Polha
27. Si Ganjang , Toean Van Repa
28. Si Djoinghata , Toean Van Pagar Batoe
29. Si Djaingot , Toean Van Si Lampoeyang
30. Si Djaoeroeng , Toean Van Gadjing
31. Si Mahata , Toean anggi Van Sidapmanik
32. Si Bandar , Toean Manik Hataran
33. Si Takkang , Toean Van Tamboen Rea
34. Si Rian , Toean Van Manik Maradja
35. Si Marihat , Toean Van Perbalogan
36. Si Pinggan , Toean Van Hoeta Bajoe
37. Si Djoegmahita , Toean Van Manggoetoer
Menurut penulis , Berarti setiap Partuanon memiliki Rumah Bolon masing masing di tempatnya / di daerahnya.
Menurut penulis , Ketika Tuan Si Saoeadim , Toean Van Bandar menjadi Raja Siantar , beliau mempunyai Rumah Batu Di Siantar yang merangkap Kantor Kerajaan.
Begitu pula ketika Tuan Riah Hata / Tuan Sidamanik merangkap menjadi Raja Siantar tahun 1907 – 1916 , beliau mendirikan kantornya di Jalan Diponegoro NO. 8 Pematang Siantar , juga merangkap Kantor Kerajaan. ( Buku 80 Tahun Djariaman Damanik 19 November 2000. )
Tuhan Riah Kadim yang masih polos itu kemudian diserahkan Belanda kepada Pendeta Zending Guillaume di Purba. Pada Tahun 1916, Tuhan Riah Kadim diubah namanya menjadi Waldemar Tuan Naga Huta dan diakui Belanda sebagai Raja
Yang mana tempat  tinggal dan Kantornya Kerajaannya di Siantar belum diketahui dimana letaknya.
Berdasarkan buku Jahutar Damanik halaman 46 s/d 49 , Setelah Korte Verklaring 16 Oktober 1907 , Kerajaan Siantar digantikan dengan 2 orang Mangkubumi yaitu :
1 Tuan Torialam Damanik gelar Tuan Marihat ( 1906 – 1912 ).
2. Tuan Riahata Damanik ……/ Nai Tukkup merangkap Tuan Sidamanik ( 1906 – 1916 ).
Setelah kedua Mangkubumi meninggal dunia oleh Pemerintah Belanda kembali mengangkat Putra tertua Raja Riahkadim Waldemar Damanik menjadi Raja Siattar ke XV ( tahun 1916 – 1824 ). Raja Riahkadim Damanik pada tahun 1923 dibujuk Belanda untuk menyerahkan berupa Hibah Anugrah tanah miliknya menjadi wilayah kota Pematang Siattar kepada Tuan Hermanus Evert Karel Ezerman ketua dewan kota praja pematang Siantar dan Tuan Louis Constant Wester Nerk , Gubernur Sumatra Timur bertindak sebagai kuasa pemerintah Hindia Belanda. Sekarang tanah yang di anugrahkan itu;ah Tanah wilayah Kota Madya Pamatang Siantar.
Dalam pelaksanaan hibah – Anugrah – Pemberian tanggal 18 Desember 1923 tersebut , pemerintah Belanda banyak berbuat sewenang – wenang , merampas , menggusur bangunan milik rakyat penduduk Kerajaan Siattar oleh Dewan Kotapraja P. Siattar selaku pelaksanaan Pemerintah Belanda. Raja Riakadim Waldemar berusaha mempertahankan hak hak rakyat sehingga Pemerintah Belanda dan Maskapy – Maskapy Asing mengalami kesulitan untuk mengembangkan usahanya. Oleh karna perlawanan Raja Siattar , pemerintah Belanda berusaha menyingkirkan Raja Riakadim Waldemar Damanik dari Tahtanya dengan alasan yang di buat buat. Pemerintah Belanda sengaja melontarkan berita bahwa Sang Raja menghabiskan uang Kerajaan. Akhirnya Raja Waldemar dijatuhkan dari tahta Kerajaan Siattar.
Kontroleur Simalungun mengangkat Tuan Sauwadin Damanik Gelar Tuan Bandar menjadi Warnemen ( Pejabat sementara Raja Siattar sampai Pemerintah Belanda berakhir dan Militerisme Jepang menyerah tahun 1945. (tahun 1924 – 1942 / 1945 ).
( dalam Tulisan , Jahutar Damanik , NPV : 2.029.293, Raja Sang Naualuh , Sejarah Perjuangan Kebangkitan Bangsa Indonesia , Medan medio 1981 cetak ulang tahun 1987 )
Penulis Oleh : Parlindungan Damanik
Sumber : Dari Berbagai Sumber

Sumber :  http://simalungunonline.com/riwayat-rumah-bolon-siantar.html